Agheelz Go Blog

Hai. Selamat datang di Agheelz Go Blog. Blog ini berisi tulisan-tulisan saya, beberapa sumbangan tulisan lain dari teman-teman, saran atau ide atau pendapat dan dari kumpulan hasil berburu berita. Karena saya juga senang memotret, saya juga tampilkan hasil memotret itu kedalam blog saya. Kritik atau saran atau ide saya terima dengan tabah.

Saturday, July 22, 2017

Kisah Kuru

Sabtu 6 Mei 2017 saat sedang berkegiatan steril kucing bersubsidi, salah seorang sukarelawan kami, Dewi Permata Sari menerima laporan seekor kucing dengan muka yang rusak di lapak tukang ikan daerah Legok Bekasi Jawa Barat. Setelah kegiatan selesai, kami membahas kucing muka rusak itu. Pada Minggu 7 Mei 2017 saya dihubungi adik saya, Imenk, yang menyatakan kepikiran dengan kucing muka rusak.         Pada Senin 8 Mei 2017 pencarian dilakukan. Namun kucing tidak ada. Pencarian dilakukan kembali pada Selasa 9 Mei 2017 oleh Dewi dan Moniq Soemarso. Lagi-lagi kucing tidak ditemukan sehingga menitip pesan kepada tukang ikan agar menangkapnya jika melihat kucing itu datang.
     Rabu 10 Mei 2017 kucing berhasil ditangkap dan dikurung tukang ikan. Dewi segera datang menjemput dan saya menghubungi drh. Nalia Putriyanda di daerah Jatiasih mengabarkan akan kedatangan kucing dengan muka rusak. Tidak lama kucing datang dan langsung diperiksa. Kondisi mukanya cukup parah sehingga saya panggil dia dengan nama Kuru (kucing rusak).
 saat kucing ditangkap tukang ikan
 saat diperiksa drh. Nalia

     Kuru segera mendapatkan perawatan dan rawat inap. Kemudian dilakukan tes FIV (Feline Immunodeficiency Virus) yang ternyata hasilnya positif. Selain itu Kuru juga menderita kanker kulit. Giginya banyak yang tanggal dan juga ada luka di tengkuk dan daun telinga terserang scabies. 
     Pada Jumat 12 Mei 2017, kami (saya, Dewi, Imenk, Moniq dan Sami dari Transpet Jakarta) menjenguknya di klinik. Kuru sepertinya tidak merasakan sakit. Dia makan dengan lahap. Berapa pun pelet kucing yang diberikan pasti dihabiskan. Tubuhnya juga gemuk berisi. Dokter Nalia menjelaskan kepada kami apa yang dimaksud dengan FIV. 
     FIV (Feline Immunodeficiency Virus) seperti halnya HIV pada manusia. Virus ini membuat penurunan kekebalan tubuh. Mungkin awalnya Kuru terkena scabies atau ada luka di muka. Karena gatal mungkin digaruk sehingga luka semakin melebar. Karena terserang FIV maka luka tidak kunjung sembuh. Kucing yang rentan terhadap FIV diantaranya adalah kucing dengan warna bulu pucat dan hidung merah muda.Virus sebenarnya sudah ada pada tubuh kucing dengan ciri-ciri seperti itu. Jika terpapar sinar matahari, virus semakin ganas. Kuru berwarna bulu putih dengan kuning pucat dan hidung merah muda. Penyebaran virus biasanya melalui luka-luka akibat gigitan perkelahian. Mungkin selama dia di jalanan terjadi perkelahian menyebabkan dia luka. Luka semakin parah karena tidak ada yang mengobati. 
     Kuru dibawa pulang Imenk untuk perawatan sebelum pengobatan lanjutan. Kuru diberikan makanan yang baik agar tubuhnya kuat terlebih dahulu. Imenk memberikan ayam rebus untuknya. Kuru sangat suka ayam rebus dan semakin lama tubuhnya semakin kuat. Selain itu saya kirimkan aneka herbal penunjang pengobatannya. Berbotol-botol herbal yang dikirimkan oleh Sandy untuk Kopri dan Asri (kucing lain yang menderita kanker) juga digunakan untuk Kuru. Terakhir adalah berbotol-botol herbal untuk Kuru dikirimkan oleh Susi Armalia.



Untuk membantu membayar tagihan klinik, saya berjualan barang-barang mulai dari payung, mug, tatakan gelas, tas sampai cermin. Semua barang bermotif kucing. Sebab tidak hanya Kuru yang butuh biaya pengobatan namun ada juga Asri yang menderita EGC (Eosinophilic Granuloma Complex), Korpri (kanker di muka), dan masih beberapa ekor lagi kucing yang diselamatkan dari jalanan.

Pada 17 Mei 2017, seorang yang mengaku penyayang kucing meminta izin untuk merawat Kuru. Arjuna datang 2 kali ke rumah Imenk memohon untuk merawat Kuru. Kebetulan pada saat itu Imenk akan menunggui anaknya yang akan melahirkan. Cucu kedua untuk Imenk. Akhirnya Kuru diangkut ke rumah Arjuna. Saya mengabari drh. Nalia yang berharap Kuru tidak dijadikan objek mencari duit.
Arjuna mengatakan tidak percaya jika Kuru menderita FIV meski saya lampirkan hasil tes yang positif. Arjuna  akan melakukan tes ulang. Saya persilahkan dia melakukan tes laboratorium. Sempat Arjuna memberikan laporan video saat Kuru dibawa ke drh. Rais dan terlihat lukanya dibersihkan. Setelah itu tidak ada lagi laporan mengunjungi klinik hewan. Foto dan video yang diberikan adalah saat Kuru didalam kandang di rumahnya. Saya tanya hasil lab yang katanya nanti diberikan. Saya kirimkan uang ke Arjuna sebesar Rp.500.000 untuk kebutuhan Kuru berobat. Katanya uang baru terpakai Rp.150.000. 

Beberapa saat berlalu dan saya mendengar kabar jika Arjuna membuka donasi untuk 3 ekor kucing diantaranya Kuru. Arjuna membuat poster dengan foto 3 ekor kucing. Sekira bulan Juni 2017 Arjuna juga mengadakan pameran di Gedung Smesco Jakarta dengan membawa poster itu. Saya kurang mengikuti perkembangan donasi ini kalau bukan laporan dari teman-teman yang melihat akun facebooknya.

Minggu 16 Juli 2017 setelah pemakaman sahabat saya Pak Sam sebagai pendiri kegiatan steril kucing bersubsidi, saya menerima laporan bahwa kondisi Kuru semakin parah. Segera saya hubungi Arjuna bahwa Kuru akan diambil besok pagi oleh Moniq. Kuru akan dijemput pagi hari sekitar pukul 9 di tempat drh. Radhian. Setelah Kuru dijemput lalu segera diantarkan ke klinik drh. Nyoman yang tentu saja terkejut melihat kondisinya yang parah. Kuru segera diinapkan.

Senin malam 17 Juli 2017 drh. Nyoman mengabarkan bahwa kualitas hidup Kuru sudah jauh menurun. Kanker di mukanya sudah sangat parah membuat mukanya bolong disana sini. Selain itu Kuru juga kurus sampai tulang-tulangnya menonjol. Saya segera putuskan bahwa Kuru sebaiknya ditidurkan karena menahan rasa sakit yang hebat.
Arjuna mengirim pesan minta maaf kepada saya dan bermaksud mengembalikan sisa uang yang menjadi hak Kuru. Selain itu juga mengatakan bahwa Kuru baru sehari tidak mau makan sebelum diambil kembali. Omong kosong! Bagaimana mungkin sehari tidak makan tubuhnya sampai kurus dengan tulang belulang menonjol? Kembali saya tanya hasil tes laboratorium. Jawabnya nanti nanti dan nanti.
Selasa 18 Juli 2017, paramedis di klinik drh. Nyoman mengabarkan kepada saya bahwa Kuru siap ditidurkan pada sore hari. Segera saya kabarkan Imenk yang memohon membatalkannya. Imenk memohon diberikan kesempatan terakhir kali bertemu dan merawat Kuru. Sore itu juga Imenk menjemput Kuru setelah sebelumnya dilakukan kemoterapi agar Kuru tidak terlalu merasakan nyeri.
Jumat 21 Juli 2017 Imenk mengabarkan jika kondisi Kuru semakin menurun dengan gusi lepas dari mulut dan bolong disana sini. Kembali saya sarankan untuk menidurkannya sebab betapa jahatnya kita sebagai manusia membiarkannya menderita menahan nyeri.
Sabtu malam 22 Juli 2017 Imenk bergegas membawa Kuru ke klinik drh. Nyoman. Pilihan sudah ditentukan dan saya mengabarkan klinik untuk menunggu kedatangannya. 

Kuru saat datang kembali ke klinik. Terlihat larva lalat keluar masuk di mukanya. Kembali saya kecewa terhadap Arjuna. Saya tidak tahu apa yang telah dilakukannya sampai Kuru menderita. Seandainya dia tidak ada uang, dia bisa menghubungi saya untuk mencari jalan keluar. Setidaknya Kuru bisa dilakukan pengobatan efektif diawal perawatan. Dan sampai saat saya menuliskan ini, tidak ada hasil laboratorium yang Arjuna janjikan.
Sabtu 21 Juli 2017 tepat jam 21.05 setelah diberikan injeksi terakhir, Kuru tertidur selamanya.
Selamat jalan Kuru. Semoga tidak ada lagi kucing-kucing yang mengalami seperti dirimu. Allah, ampunkan kami...