Agheelz Go Blog

Hai. Selamat datang di Agheelz Go Blog. Blog ini berisi tulisan-tulisan saya, beberapa sumbangan tulisan lain dari teman-teman, saran atau ide atau pendapat dan dari kumpulan hasil berburu berita. Karena saya juga senang memotret, saya juga tampilkan hasil memotret itu kedalam blog saya. Kritik atau saran atau ide saya terima dengan tabah.
Showing posts with label PENDIDIKAN. Show all posts
Showing posts with label PENDIDIKAN. Show all posts

Monday, February 1, 2016

Cara Membuat Air Rendaman Tembakau



Ada anjing atau kucing atau hewan lain yang diselamatkan dan ternyata ada luka penuh larva lalat? Mudah sekali cara membunuh atau mengusir larva lalat dengan air rendaman tembakau. Rendaman tembakau berfungsi untuk membunuh lintah dan hewan moluska lain termasuk ulat serta mengusir belatung lalat. Biasanya belatung berada pada luka yang membusuk. Bahan: - Satu atau dua batang rokok - Air - Wadah apa saja Caranya: 1. Buka kertas bungkusnya dan tuangkan tembakau rokok kedalam wadah. 2. Tuangkan air sedikit lalu remas-remas tembakau sampai air berwarna kuning kecokelatan. 3. Celupkan busa filter rokok. Jika rokok tidak menggunakan filter busa bisa celupkan kapas, ujung kain atau kertas tisu. Atau bisa juga menggunakan pipet. 4. Teteskan ditempat belatung berkumpul. Tunggu beberapa saat. Bersihkan belatung yang keluar dan teteskan lagi sampai semua belatung keluar dan keringkan dengan tisu. Belatung yang mati didalam dapat diambil dengan pinset atau jepit. Sisa air tembakau dapat ditambahkan lagi sedikit air lalu saring dan masukkan kedalam botol semprot. Semprotkan ke tempat dimana lalat berkumpul atau semprotkan ke ulat tanaman.

Source: https://m.facebook.com/notes/milza-permatasari/cara-membuat-air-tembakau/10153829006237808/?ref=m

Monday, October 14, 2013

Membaca Komik Lucky Luke

   
     Dengan lampu yang digantungkan di ranting pohon, anak-anak ini serius membaca komik Lucky Luke. Sebentar ada yang tertawa terbahak-bahak, ada yang tersenyum, ada pula yang diam saja. Komik Lucky Luke memang menarik. Selain dari ceritanya juga karena komiknya berwarna. Tokoh Lucky Luke terkenal dengan slogan "Menembak Lebih Cepat Dari Bayangannya". Jadi bisa dibayangkan seberapa cepat si tokoh koboy ini menembak. Selain itu juga kudanya yang setia bernama Jolly Jumper. Mengajak anak-anak membaca komik yang baik sekaligus mengajak mereka untuk belajar karena banyak nilai-nilai pendidikan yang baik terkandung didalam ceritanya.

     Meski pun demikian sebaiknya orang tua mengawasi bacaan untuk anak-anak. Karena tidak semua komik itu cocok dan sesuai untuk anak-anak baik dari gambar maupun cerita. Bahkan ada komik dengan isi untuk orang dewasa yang tentunya tidak boleh sampai jatuh ke tangan anak-anak.
Lucky Luke (sumber: http://www.philatelia.net/cat6/stamps/?id=2072)

Sunday, July 14, 2013

Planet Satwa Ajak Anak Pemulung ke TMR

Written by Safari Sidakaton

Monday, 08 July 2013

Anak-anak pemulung saungelmu diajak mengenal satwa dan lingkungan di Taman Margasatwa Ragunan/Dok Planet Satwa
Anak-anak pemulung saungelmu diajak mengenal satwa dan lingkungan di Taman Margasatwa Ragunan/Dok Planet SatwaUntuk mengenalkan lingkungan, sekaligus berekowisata. Komunitas pecinta satwa, Planet Satwa mengajak sejumlah anak-anak pemulung yang menempuh pendidikan di saungelmu ke Taman Margasatwa Ragunan (TMR), Jakarta Selatan, Sabtu (6/7).

Kegiatan ini diikuti sedikitnya 15 anak yang terdiri dari 10 anak saungelmu A (setara TK-SD) dan 5 anak saungelmu B (setara SMP). Selain itu, 6 tutor saungelmu juga turut serta dalam kegiatan yang berlangsung dari pukul pukul 10.00-14.00 WIB tersebut.

Acaranya sendiri diisi dengan berbagai kegiatan, diantaranya adalah mengunjungi semua jenis satwa yang ada di TMR. Mulai dari mamalia, unggas, dan reptil. Ada juga kegiatan makan-makan bersama.

Rencananya pada kesempatan itu akan digelar menggambar bersama, namun mengingat semakin padatnya pengunjung, maka kegiatan tersebut urung dilakukan. Kegiatan menggambar akhirnya dilakukan di tempat saungelmu di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Melihat Gajah menjadi terasa istimewa buat anak-anak saungelmu Melihat Gajah menjadi terasa istimewa buat anak-anak saungelmu


"Kegiatan ini juga untuk menyambut bulan Ramadan," kata Mamih Agil, pengurus Planet Satwa kepada TNOL.

Menurutnya, tujuan kegiatan yang digelar Planet Satwa adalah untuk mengenalkan satwa kepada anak-anak saungelmu. Oleh karena itu, usai mengunjungi berbagai satwa di TMR, anak didik saungelmu diberikan pertanyaan seputar satwa yang sudah dilihat.

"Yang bisa jawab dapat hadiah berupa pensil warna dan buku mewarnai," jelas Mamih Agil.

Ia menegaskan, pemberian hadiah selain sebagai hiburan, juga untuk merangsang pengetahuan anak-anak didik saungelmu tentang satwa. Yang terpenting, anak-anak paham dan mengerti yang diajarkan langsung terhadap apa yang dilihatnya.

"Ketika usai makan sampah sisa nasi bungkus juga dikumpulkan, dimasukkan ke dalam kantung plastik dan dibawa supaya nanti kalau ada tempat sampah di buang di sana," paparnya.

Mamih mengakui, dalam kegiatan tersebut cukup melelahkan. Apalagi anak-anak didik juga dilarang jajan sembarangan. Hal itu dilakukan karena banyak kandungan yang tidak jelas dalam makanan yang dijajakan secara sembarangan.

"Maksudnya kalau jajan sembarangan nanti sakit," jelas Mamih sembari tersenyum gembira.(Sbh)

Wajah-wajah ceria anak-anak saungelmuWajah-wajah ceria anak-anak saungelmuFoto dulu ya...!Foto dulu ya...!

Tuesday, April 30, 2013

Happy English, Deric dan Planet Satwa Edukasi Soal Binatang


Happy English, Deric dan Planet Satwa Edukasi Soal Binatang

Written by Safari Sidakaton

Sunday, 31 July 2011

Mereka berkoloborasi demi mengedukasi anak-anak dan masyarakat tentang pentingnya hewan dalam kehidupan manusia...

Edukasi soal binatang kepada anak-anak/ Foto-foto: Dok. Juang SiahaanEdukasi soal binatang kepada anak-anak/ Foto-foto: Dok. Juang Siahaan
Saat ini, kehidupan binatang sebagai penyeimbang kehidupan manusia masih banyak yang diabaikan. Banyak binatang yang dianiaya dan dibunuh karena dianggap mengganggu kelangsungan hidup manusia. Padahal, dengan tidak eksisnya kehidupan binatang akan sangat berpengaruh terhadap manusia.
Mengingat pentingnya binatang untuk kelangsungan hidup banyak orang, maka Happy English, Planet Satwa dan Deric Education menggelar program edukasi mengenai perlakuan terhadap satwa di Kolong Jembatan Tol Penjaringan, Jl. Rawa Bebek Selatan RW 10, Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu (24/7).
Binatang diperkenalkanBinatang diperkenalkanSesuai rencana acara tersebut akan berlangsung di Kolong Jembatan Tol Penjaringan RW 13. Namun, karena pengusiran dari sejumlah oknum akhirnya dipindahkan ke RW 10.
Kepindahan lokasi ternyata tidak membuat peserta berkurang. Bahkan peserta semakin antusias ketika ditunjukkan beragam binatang seperti ular, anjing, kadal, kura-kura dan burung.

Dok.Dok.

Acara bertajukKenali dan Lindungi Satwaini menghadirkan bintang tamu presenter acara televisi Jejak Petualang Survival, Tyo Jp. Adapun materi yang disampaikan adalah pengenalan secara langsung dengan satwa disekitar kehidupan manusia (biawak, burung, kadal, kura-kura), penanganan apabila ada ular masuk ke dalam rumah (dengan gambar dan praktek) dan pengobatan P3K dengan herbal.
Foto di kolong jembatan..Foto di kolong jembatan..Nancy P. Martawardaja, Humas Happy English mengatakan, digelarnya edukasi tentang binatang karena saat ini banyak orang yang tega membunuh ular yang masuk ke rumah dengan alasan takut digigit. Padahal, belum tentu ular tersebut berbisa karena saat ini banyak juga ular yang justru tidak berbisa.
“Masuknya ular ke rumah juga karena beberapa faktor. Faktor utama adalah tersedianya makanan si ular di dalam rumah tersebut,” jelasnya.
Selain membunuh ular,  sambung  Nancy,  banyak juga orang yang tega membuang anak kucing, menimpuk anjing, menembak burung atau kalong hanya sebagai kesenangan semata. Belum lagi masalah monyet yang dipekerjakan sebagai pengemis.
Happy English adalah semacam kursus yang diadakan oleh para relawan. Anak-anak itu berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka belajar di kolong jembatan tol Gedong Panjang 1, Penjaringan Jakarta Utara. Yang disebut kelas adalah terpal yang digelar. Jika dikatakan tidak boleh keluar kelas berarti tidak boleh keluar dari terpal. Mereka belajar setiap dua minggu sekali yaitu setiap hari Minggu pagi.

Edukasi..Edukasi..Selama ini mereka belum mendapatkan bantuan dari dinas sosial atau badan lain yang terkait. Untuk penunjang belajar anak-anak, Happy English mengundang Planet Satwa untuk memberikan edukasi tentang hewan secara sukarela karena mereka tidak sanggup untuk membayar.
Selain belajar mereka juga ada kegiatan seni seperti operet dan lenong. Dari menjual tiket itulah mereka mendapatkan dana operasional karena selama ini mereka belum mendapatkan bantuan dari dinas sosial atau badan lain yang terkait. Dalam kesempatan ini Planet Satwa dan Deric Education dengan sukarela mencarikan donatur dan sponsor untuk Happy English. (Sbh)

Happy English di Planet Satwa






Seruas jalan beraspal kasar dan berlubang di kawasan Gedong Panjang, Penjaringan, Jakarta Utara, itu tak henti mengepulkan debu. Sengat mentari begitu terik. Atap pos ronda, pagar, dan pohonan berpupur debu. Di satu sudut kolong jembatan yang pengap dan sumpek, kerumunan orang yang mayoritas anak-anak duduk lesehan. Lainnya berdiri berdesakan.

“Siapa yang mau pegang ulaaar..!,” Bintang Dwi Nugroho Respati separuh berteriak melalui corong megaphone di tangannya.
Sayaa..! Sayaa…!” Sejumlah bocah usia SD itu pun merangsek maju.

Teguh Prasetyo Budi yang siang itu memegang seekor Boiga dendrophillasepanjang hampir dua meter, hanya senyum-senyum begitu jari-jari mungil para bocah mulai meraba tubuh ular berbisa menengah yang juga dikenal sebagai ular cincin emas itu. Wajah kanak-kanak yang riang.

Ya, Ahad (24/7) lalu menjadi hari yang cukup istimewa bagi tak kurang dua ratusan anak yang mayoritas tinggal di sekitar jalan tol Gedongpanjang, Penjaringan, Jakarta-Utara. Orang tua mereka berasal dari beragam latar belakang sosial ekonomi. Buruh serabutan, pedagang kecil, dan sebagainya.

Selain materi pengenalan satwa liar dari spesies mamalia yang disampaikan oleh Mbak Imenk dari Planet Satwa, rekan-rekan pecinta reptil depok yang tergabung dalam Deric Education, berperan besar dalam acara yang juga dihadiri host serial“Jejak Petualang” (TV 7), Herna Tyo. Tyo bahkan tak segan turun tangan membantu menyiapkan property dan alat peraga berupa aneka reptile dan satwa koleksi Deric Education maupun pribadi. Beruntung, acara hari itu juga kian ramai oleh dukungan sumbangan ratusan botol sirup dari kolega Happy English serta dari PT. Unilever berupa sampo, sabun, hingga deodoran. Tak ketinggalan majalah Flona dengan sumbangan berupa puluhan eksemplar majalah yang temanya relevan dengan materi edukasi hari itu.

Nah.., jadi kita tak perlu membunuhnya. Kita bisa menggunakan alat-alat sederhana seperti ini untuk mengusir ataupun mengendalikan ular yang masuk rumah,” terang Abas Nyak Agil Mamih sembari meraih sapu dan pengki. Dibantu Teguh Prasetyo Budi yang juga sesepuh Deric Education serta Roy, Averoes Oktaliza, Arby, Muhammad Nurwanta, dan pegiat Deric Education lainnya, bergantian materi penanganan ular dipaparkan di hadapan anak-anak yang sangat antusias itu.Empok-empok yang berdiri di belakang anak-anak tak kalah antusias. Sesekali mereka menutup mulut sembari mata mendelik melihat tangan seorang relawan Planet Satwa sengaja digigitkan pada seekor ular guna rekonstruksi penanganan gigitan ular. Aiiihhh..!

“Siapa yang mau digigiit..!,” seorang relawan berteriak. “Saiyyyyaaaaa….!,” beberapa anak maju ke depan dengan gagah berani. Giliran relawan Planet Satwa sejenak mati kutu. Hehe…dasar bocah.

“Mengenal dan mencintai satwa harus dimulai sejak dini. Ini yang ingin ditanamkan pada anak-anak Happy English, sebuah kelas bahasa inggris di kolong tol Penjaringan, Jakarta Utara, bersama dengan komunitas Planet Satwa,” papar relawan humas Happy English Nancy P. Martawardaja yang akrab dipanggil Ecy dalam rilisnya (26/7) terkait program edukasi bertajuk “Happy English Juga Sahabat Satwa".

Ecy mengimbuhkan, seringkali manusia tidak menyadari bahwa satwa berperan sebagai penyeimbang kehidupan. “Tidak ada suatu ciptaan apapun yang diciptakan oleh Tuhan tanpa maksud, oleh karena itu kami ingin anak-anak Happy English mencintai dan memperlakukan satwa dengan baik serta tidak melakukan penyiksaan”.

Anak - anak yang mengikuti program edukasi ini merupakan siswa Happy English yang biasa belajar di kolong tol Penjaringan. Anak - anak tersebut bukanlah anak anak jalanan, pengemis ataupun pengamen. Mereka bersekolah dan memiliki orang tua yang bekerja sebagai buruh ataupun pedagang kecil. Dalam keterbatasan fasilitas dan lokasi belajar, sedikitpun semangat mereka tak redup kala mengikuti kelas yang diadakan para relawan.

Kelas Happy English diadakan sebulan dua kali dengan tempat belajar berlantai semen beralaskan terpal. “Kami dari Happy English memiliki visi yang sama dengan Planet Satwa dalam memperlakukan satwa, kami ingin anak – anak mencintai dan menjadikan satwa sebagai sahabat mereka. Oleh karena itu, kami senang sekali bisa mendapat edukasi langsung dari teman – teman Planet Satwa, yang memiliki pengetahuan mumpuni tentang satwa “ terang Ecy.

Harapan Ecy dan kawan-kawan Happy English terkait tradisi memperlakuan satwa secara layak patut didukung. Pasalnya, untuk satwa liar, misalnya, tak sedikit dari anak-anak itu yang belum mengenalnya lebih dekat.

“Kamu pernah ketemu ular?,” tanya saya pada seorang peserta bernama Sadam (9). Bocah bertubuh gemuk itu hanya tersenyum sembari memainkan buku tulisnya. Tiba-tiba matanya berbinar. “Pernah!,” Sadam tersenyum.
“Ular apa?,” Saya menyelidik.
“Ular kobra!,” jawabnya mantap sembari menuding seekor ular kobra dalam boks kaca milik relawan Planet Satwa yang siang itu menjadi salah satu materi edukasi.
Oohoh, itu tho...

Menurut Abas Nyak Agil Mamih, inisiator Planet Satwa, selama ini pemahaman publik terkait satwa liar masih sangat kurang. Bahkan untuk hal-hal yang mendasar. “Dampak paling umum adalah munculnya persepsi keliru tentang satwa. Berikutnya, muncul tindakan atau perlakuan yang juga tidak tepat terhadap satwa liar yang masuk ke habitat manusia,” papar Agil dalam satu kesempatan. Karena itu edukasi dasar terkait satwa liar maupun domestik perlu diberikan sejak dini.

Agil, mantan pramugari maskapai penerbangan Garuda yang juga pengasuh satwa telantar, itu lantas mencontohkan tindakan kebanyakan orang saat mendapati ular masuk perkampungan. “Biasanya langsung dibunuh tanpa berpikir panjang kenapa sampai ular masuk rumah penduduk,” ujarnya prihatin. Biar begitu, Agil tak sepenuhnya menyalahkan tindakan warga mengingat tak semua orang paham dan mampu mengatasi ular atau satwa liar yang nylonong ke rumah penduduk.

Itu pula yang melatari Agil dan rekan-rekannya menggagas Planet Satwa, belum lama ini. Tercatat sejumlah kalangan pemerhati dan penyayang reptil, mamalia, unggas, dan banyak lagi, mendukung inisiasi Planet Satwa yang saat ini bermarkas di kediaman Agil di kawasan Rawajati Timur III/1, Jakarta. Planet Satwa mengakomodasi siapapun yang memiliki kepedulian terhadap satwa tanpa memandang latarbelakang organisasi setiap indvidu yang telibat. Serta bersama-sama mengedukasi dan memberikan advokasi publik terkait paradigma yang tidak tepat dalam penanganan satwa liar maupun domestik.

(credit photos : Happy English)

Thursday, January 17, 2013

Komunitas Aspera Wadah Edukasi Hewan Reptil


Komunitas Aspera Wadah Edukasi Hewan Reptil

Komunitas Aspera Wadah Edukasi Hewan Reptil
DOK PRI
Apakah Anda seorang pencinta hewan-hewan reptil? Jika ya, komunitas ini sangat tepat untuk Anda ikuti. Aspera merupakan komunitas pencinta hewan reptil sekaligus wadah untuk memberikan edukasi seputar hewan reptil. 

Awalnya, komunitas ini berdiri dengan nama Deric Education pada 4 Juli 2011. Komunitas yang didirikan oleh Arbi Krisna, Teguh, Yossi, Averos, Denny, Rudini, dan Defri ini bertujuan memberi wadah bagi para pencinta reptil. 
   Namun, banyak juga orang awam yang kurang mengerti tentang hewan ini, baik dari spesiesnya maupun cara pemeliharaannya, ingin bergabung. Karena itu, memberikan edukasi kepada masyarakat tentang hewan reptil menjadi tujuan utama komunitas ini. 


   Dengan slogan "We Care About Reptile", Deric Indonesia Reptiles Care & Education menjadi sebuah organisasi bagi masyarakat untuk lebih mengenal dan mengetahui tentang reptil. 

Pada 28 Desember tahun lalu, komunitas ini kemudian berubah nama menjadi komunitas Aspera. "Nama itu dipilih atas dasar voting bersama, diangkat dari nama Latin ular asli Indonesia (Candoia aspera). Ular itu endemik di Indonesia, nggak ada di negara lain," terang Ketua Aspera, Arbi Krisna, kepada Koran Jakarta.

Edukasi tentang Ular
   Walaupun tak membatasi hewan reptil jenis tertentu, ular menjadi primadona di komunitas ini. "Kita peduli akan reptil, khususnya ular, karena selama ini paradigma masyarakat buruk tentang ular, selalu berpikir semua ular berbahaya dan mematikan. Jadi, kita peduli dengan menjelaskan cara sosialisasi penyuluhan ke masyarakat, ke sekolah, ke kampus. Jadi, kita kasih pemahaman tentang fakta reptil sebenarnya ke masyarakat, khususnya tentang ular," jelas Arbi.
   Selama ini, masyarakat memang menganggap ular sebagai hewan berbahaya. Padahal, tak semua ular berbisa. Arbi menjelaskan bagi orang yang awam dengan ular dan tak tahu apakah ular itu berbisa atau tidak, cara yang paling aman adalah diam. Ular takut pada manusia, contohnya ular liar (ditangkap dia gigit, dilepas dia lari). Ular menggigit manusia sebenarnya karena rasa terpojok, terancam, dan merasa sakit (terinjak atau terjepit). Sebenarnya ular lebih memilih lari ketika berpapasan dengan manusia. Jadi, paling aman kalau ketemu ular itu kita diam aja.

"Jangan asal pegang. Untuk orang awam, kita nggak pernah ajarin bersentuhan apalagi pegang, takutnya dia asal pegang dan yang dia pegang ularnya berbisa," terang Arbi.


   Lewat sosialisasi yang diberikan, Aspera pun memberikan edukasi tentang manfaat keberedaan ular. "Ular bukan binatang yang berbahaya, malah ular menahan populasi tikus yang bisa menyebabkan kita kekurangan bahan pangan. Ular juga salah satu elemen rantai makanan yang sangat penting," terang Arbi. 


   Selain itu, Aspera juga meluruskan mitos-mitos yang beredar di masyarakat. Seperti penggunaan garam untuk mengusir atau menghalangi ular. Padahal, menurut Arbi, ular tidak takut dengan garam. Selain itu, banyak juga orang awam yang tak tahu bahwa ular adalah hewan tuli dan hampir buta. 


"Karena mata ular tidak berfungsi dengan baik, dia melihat dengan cara menjulurkan lidah keluar, menjilat partikel dari udara, diantarkan ke sensor jacobson, lalu ke otak," tambah Arbi.
   Menginjak usianya yang memasuki tahun kedua, Aspera berharap agar komunitas ini bisa terus eksis. Namun, yang menjadi harapan utama komunitas ini adalah agar semakin banyak orang yang memahami tentang fakta ular dan ingin agar paradigma masyarakat membaik tentang ular. 

Kegiatan Rutin
   Aspera memiliki kegiatan rutin berupa gathering yang diadakan 1-2 kali dalam sebulan. "Kita kumpul di UI, depan stadion. Terus kunjungan ke rumah anggota biar lebih akrab. Di sana kita bawa ular yang aman, di situ akan menarik perhatian orang-orang yang jalan akan mendekat, memberanikan diri untuk nanya-nanya, terus kita jelasin pelan-pelan, kita berikan juga nomor telepon team rescue, bila ada yang mau dibersihkan rumahnya dari ular," ungkap Arbi.
   Selain sosialisasi dan mengedukasi tentang reptil ke sekolah-sekolah, Aspera juga memberikan penyuluhan ke tim-tim pencinta alam. Aspera juga mengadakan herping, yaitu kegiatan masuk hutan untuk mencari ular yang berada di hutan tersebut. Tujuannya adalah untuk mendata ular yang berada di hutan tersebut kemudian dilepas lagi. 
   Ada juga kegiatan sweaping atau rescue. "Jadi pengaduan orang-orang yang rumahnya kemasukan ular dan sering ditemukan ular di rumahnya. Itu kita bersihkan, pindahkan ke tempat yang aman untuk ular dan manusianya juga," jelas Arbi. 
   Kegiatan lain yang dilakukan adalah breeding, bisa berupa beternak ular maupun hewan reptil lainnya. "Lalu juga sharing ilmu sama anggota. Kalau ada masalah sama ularnya atau ularnya sakit, dan juga info-info baru. Yang diternak itu biasanya kita jual ke anggota, sebagian, kalau over, kita rilis ke alam, kalau ke orang lain kadang kita jual juga, tapi dengan syarat dia penyayang hewan," ungkap dia.


   Walaupun komunitas ini juga menjual hasil ternaknya, namun bukan berarti mereka mendukung komersialisasi hewan reptil. Banyak juga anggota komunitas ini yang tak suka dengan petshop atau toko hewan. 


"Orientasi mereka kan cuma ke uang. Kalau yang jual mengerti, misal jual ular yang biasa hidup alboreal (pepohonan), kadang dikasih ranting. Terus ular yang hidup di suhu panas dikasih lampu, itu fine-fine aja. Tapi kalau cuek banget itu yang sebenarnya kasihan, kadang karena buat dijual dikasih makan seadanya, karena penjual nggak mau rugi, ungkap Arbi.
   Selain kegiatan rutin seperti di atas, ada juga event besar yang mereka ikuti. Seperti Campaign Komodo pada 30 Oktober 2011, Pet Care Day 2012 di kampus IPB, Kenali dan Lindungi Satwa di Sekitar Kita dengan Planet Satwa, hingga Indonesia Reptile Breeder Convention di Grand Indonesia. 

Keanggotaan

   Hingga saat ini, Aspera telah memiiki anggota sekitar 200 orang yang terdaftar di jejaring sosial Facebook. Dari jumlah tersebut, anggota yang aktif sekitar 35 orang. 
Komunitas ini juga tak membatasi anggotanya hanya dari Jakarta saja, tapi juga dari daerah lain seperti Bekasi dan Bogor. 
   Aspera pun tak membatasi usia anggota yang ingin bergabung. Namun, hingga saat ini, anggota yang paling muda adalah siswa kelas 1 SMA, sedangkan yang paling tua sekitar umur 45 tahun. 
   Bagi Anda yang ingin bergabung dengan komunitas Aspera atau sekedar ingin mengetahai pengatahuan mengenai hewan reptil, khususnya ular, Anda bisa datang ke kantor pusat Aspera yang berlokasi di Gang Sukur (belakang SMA 38), Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Anda juga bisa bergabung di Facebook resmi Aspera. 

Planet Satwa

Monday, September 3, 2012

Cegah Flu Burung dengan Daging Ayam Potong ASUH


Cegah Flu Burung dengan Daging Ayam Potong ASUH

Written by Agheelz

Monday, 06 February 2012

Memotong ayam tanpa memakai pakaian lengkap/ Foto-foto: Dok.Memotong ayam tanpa memakai pakaian lengkap/ Foto-foto: Dok.Kasus flu burung kembali merebak di DKI Jakarta dan memakan korban jiwa. Benarkah ada hubungannya dengan mengonsumsi daging ayam yang 'sakit' atau mati mendadak? Bagaimana dengan undang-undang Pemda DKI Jakarta yang melarang warga untuk memelihara ayam konsumsi di perumahan? Atau bagaimana dengan peredaran daging ayam selama ini di pasaran?
Mungkin belum banyak masyarakat yang tahu tentang program dinas peternakan yang disebut ASUH. Dan mungkin juga banyak masyarakat yang tidak peduli atau hanya mendengar sekilas dan tidak mengerti maksud dari ASUH. Apa kepanjangan dari ASUH? ASUH adalah Aman Sehat Utuh dan Halal.
Menurut drh. Sri Hartati, Msi, saat ditemui penulis di RPU (Rumah Potong Unggas) di Rawa Kepiting, masih banyak masyarakat terutama produsen daging ayam potong yang tidak menjalankan program ASUH. Hal ini terlihat dimana biasanya di pasar-pasar tradisional, penjual ayam memotong langsung ayam di tempat. Atau penjual daging
Membawa ayamMembawa ayam
ayam yang tidak mendinginkan dagangannya. Selain itu, juga ada pemotong ayam yang tidak memakai baju lengkap seperti hanya memakai kaos oblong dan beralaskan sandal jepit.
Kemudian, cara pencucian daging ayam potong juga tidak memadai dimana biasanya daging ayam potong itu dicuci menggunakan air yang sudah kotor karena sudah berkali-kali digunakan. Lalu, pembuangan sisa ayam potong seperti bulu dan air cucian juga sembarangan.
Hal ini tentunya membuat  daging ayam potong itu tidak sehat. Selain itu cara memotong ayam juga tidak memikirkan aspek kesejahteraan hewan karena sering kita lihat orang membeli ayam hidup yang dibawa menggunakan sepeda motor dengan cara mengikat kakinya dan kepala menjuntai ke jalanan. Ayam itu sudah mengalami stres saat di perjalanan.
Jika kita perhatikan konsumen yang membeli daging ayam potong di pasar tradisional biasanya tidak langsung pulang untuk mengolahnya tetapi berkeliling dulu membeli yang lain. Sementara itu kondisi suhu yang hangat di daging ayam itu merupakan suhu yang digemari bakteri untuk tumbuh dan berkembang yaitu pada suhu 4OC – 60OC atau sering disebut dengan danger zone. Sedangkan pada suhu 4OC – 0OC bakteri itu hanya 'tidur'.
drh. Sri Hartati, MSidrh. Sri Hartati, MSiUntuk mendapatkan daging ayam potong yang sesuai dengan ASUH antara lain dengan perlakuan sebagai berikut: setelah ayam dipotong dan dibului (dilepaskan bulu-bulunya), dipisahkan bagian dalamnya (jeroan) lalu dicuci sampai bersih. Setelah bersih kemudian dimasukkan kedalam air es lalu langsung di-blast, yaitu dibekukan di dalam mesin pembeku dengan suhu mencapai minus (-)30OC. Dengan perlakuan ini dipastikan bakteri akan mati demikian pula virus tidak akan menempel.
Bagi para pemotong ayam di pasar tradisional bisa juga melakukan hal ini yaitu merendam kedalam air es lalu memasukkannya kedalam freezer; meskipun suhunya tidak sampai -30OC tetapi paling tidak dapat meredam pertumbuhan bakteri di zona bahaya (danger zone) itu tadi. Kalau tidak mempunyaifreezer sebaiknya menyediakan banyak es untuk merendam daging ayam potong.
Lebih lanjut drh. Sri Hartati juga menambahkan pentingnya pengawasan terhadap daging ayam potong. Pengawasan itu, selain dari pemerintah dan produsen juga dari masyarakat. Dari masyarakat misalnya tidak membeli daging ayam yang tidak dipotong di RPH (Rumah Pemotongan Hewan).
Untuk itu, pemerintah juga bekerjasama dengan produsen ternak ayam potong dan masyarakat untuk mengedarkan daging ayam ASUH. Jadi, kalau melihat gerobak dengan gambar model Omas dan ayam ASUH, bisa dipastikan itu adalah daging ayam potong dari RPH resmi.
Untuk lebih jelasnya masyarakat dapat menghubungi drh. Sri Hartati di Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, Bidang Peternakan seksi KESMAVET, telepon 021-6285484.

Wednesday, August 29, 2012

Komposisi Organik dan Non organik bisa ular


Komposisi Kimia Bisa Ular

 
Taipan snake

A.      Komposisi Organik dengan Role atau Role Potensial dalam tingkat toksisitasTingkat toksik – molekular – berat komposisi


1.   Komposisi: Peptide bradykinin potentiators
      Daya kerja: menyerang salah satu respons tubuh yang merasakan sakit (dilatasi dan   permeabilitas pembuluh darah, stimulasi penerima rasa nyeri, dan kontraksi pada beberapa otot-otot halus), dimana masuknya bisa kedalam aliran darah menyebabkan perdarahan dan rasa kebas. Ular yang memiliki bisa ini adalah Bothrops dan Crotalus.

2.     Komposisi: Polypeptida toxin
     Daya kerja: langsung menyerang jaringan saraf impuls, biasanya menyebabkan gagal jantung dan sesak pernafasan. Termasuk jenis ular Mamba dan Colubrid yaitu: Naja (cobratoxin), Hydrophis (Hydrophitoxin), Laticauda (lactotoxin),Pelamis (pelamitoxin), Naja (cardiotoxin), Crotalus  scutulatus ( Mojavetoxin),Bungarus (bungarotoxin), Crotalus (crotactin), dan Vipera (vipertoxin).

3.    Komposisi: Enzim proteolitik.
       Daya kerja: Mengkatalisasi struktur jaringan sehingga jaringan hancur. Bisa dengan komposisi ini terdapat pada semua jenis ular berbisa.

4.      Komposisi: Hyaluronidase.
     Daya kerja: Reaksi katalisasi yang memecahkan garis mukopolisakarida dalam jaringan bila bisa masuk cukup dalam. Ular dengan komposisi bisa ini terdapat dalam beberapa genus.

 5.     Komposisi: Protease.
         Daya kerja: Katalisasi ikatan protein peptida dalam jaringan menyebabkan dinding pembuluh darah rusak dan perdarahan dan jaringan otot bergetar. Ular dengan bisa ini adalah Viper dan Pitviper.

6.      Komposisi: Phospholipase
         Daya kerja: Katalisasi otot-otot halus dan saraf. Ular dengan bisa ini terdapat pada hampir semua jenis ular berbisa (misalnya: phospholipidase A pada ular Agkistrodon, Bothrops, Crotalus, Naja, dan Vipera).

7.    Komposisi: Enzim-enzim Thrombin.
     Daya kerja: Mencegah pembekuan sel darah. Ular dengan bisa ini adalah Viper, Pitviper, dan beberapa Elapid.

8.    Komposisi: Enzim pertumbuhan.
       Daya kerja: Stimulasi pertumbuhan sel-sel saraf. Jenis ular: Agkistrodon, Crotalus.

9. Komposisi: Enzim-enzim: ribonuklease, deoxyribonuklease, nukleotidase, asam amino oxidase, lakta dehydrogenase, acidic dan phosphatase.
      Daya kerja: Mengacaukan fungsi normal sel-sel, menyebakan kematian sel-sel aktif. Jenis ular: Viper dan beberapa Elapid.

10.     Komposisi: Glycoprotein.
       Daya kerja: Menekan respons imun jaringan melalui reaksi antikomplementari. Jenis ular: beberapa Viper.

Tingkat toksik rendah dan komposisi molekul.

1.       Komposisi: Nukleotida (asam amino).
Daya kerja: Belum diketahui. Jenis ular: Bitis, Dendroaspis, Notechis (adenosine), Bungarus (guanosine).

2.       Komposisi: Biogenik amin.
Daya kerja: Mengacaukan transmisi normal dari impuls saraf dan alat perasa tubuh lain diantara sel-sel. Jenis ular: Agkistrodon (seratonin), Crotalus (catecholamine dan seratonin), Trimeresurus (histamine dan spermine).

3.       Komposisi: Asetilkolin
Daya kerja: Mengacaukan transmisi impuls saraf menyebabkan gagal jantung dan pernafasan. Jenis ular: beberapa genus.

gigitan ular tidak berbisa

B.      Komposisi lain (organik dan inorganik)

1. Komposisi organik yang tidak termasuk toksik dan komposisi organik dengan ikatan bebas yaitu:
Karbohidrat: Gula, Gula Amino, Asam Sialik.
Lipid: Kolesterol, Monogliserida, Digliserida, Trigliserida, Fosfolipid.

2. Komposisi inorganik (dengan enzim aktifat dan deaktifat).
Komponen makro: Kalsium, Klorin, Kuper, Besi, Magnesium, Mangaan, Nikel, Fosfat, Potasium, Sodium, Sulfat, Seng.
Komponen mikro: Bismuth, Emas, Molybdnum, Paladium, Platina, Selenium, Perak, Air.

-disadur dari World of snakes 
-berbagai sumber


copas link: https://www.facebook.com/notes/abas-nyak-agil-mamih/komposisi-organik-dan-non-organik-bisa-ular/446236512807
by Abas Nyak Agil Mamih on Saturday, October 9, 2010 at 4:07pm

Susunan kimia bisa ular



     Susunan kimia bisa ular sangat kompleks. Bisa mengandung 90% protein (bahan kering) dan kebanyakan dari protein tersebut adalah enzim. Sekitar 25 enzim-enzim yang berbeda telah diketahui pada bisa ular, 10 diantaranya terdapat pada bisa-bisa sebagian besar ular. Enzim proteolitik, phospholipase, dan hyaluronidase merupakan jenis enzim yang terbanyak. Enzim katalis proteolitik akan memecahkan jaringan-jaringan protein. Phospholipase yang terdapat pada hampir semua jenis ular, bervariasi mulai dari toksik yang lemah sampai kuat untuk menghancurkan jaringan otot sampai saraf. Hyaluronidase memecahkan bahan-bahan inti sel dan dengan cepat menyebarkan bisa melalui jaringan tubuh dari mangsa. Enzim lain termasuk collagenase yang terdapat pada ular jenis Viper dan Pitviper akan memecahkan struktur jaringan ikat protein (protein collagen); ribonuclease, deoxyribonuclease, nucleotidase, asam amino oxidase, lactate dehydrogenase, dan acidic dan dasar dari phosphatase akan menghentikan fungsi sel-sel normal, menyebabkan sel-sel metabolisme terhenti, shock dan kematian.

whip snake bite

            Tidak semua komposisi toksik kimia pada bisa ular adalah enzim, toksin polypeptide, glycoprotein, dan sejumlah kecil molekul juga terdapat pada bisa ular Mamba dan Colubrids. Sedangkan komposisi kimia lainnya masih belum diketahui. Setiap bisa ular mengandung lebih dari satu toksin, dan dengan kombinasi toksin-toksin tersebut memiliki lebih banyak efek potensial dibandingkan dengan toksin yang berdiri sendiri. Secara umum, bisa ular digolongkan kedalam neurotoksik (menyerang sistem saraf) atau hemotoksik (menyerang sistem peredaran darah) namun pada ular-ular tertentu bisa-nya mengandung komposisi dari keduanya. Secara umum komposisi bisa ular bertujuan untuk merusak fungsi-fungsi tubuh yang normal.

  1. Enzim, ditemukan pada semua ular berbisa yang merusak secara fisiologis atau merusak proses metabolisme tubuh.
  2. Proteolysins, kebanyakan ditemukan pada ular Viper dan Pitviper yang menyebabkan sel-sel dan jaringan kulit rusak terutama pada tempat gigitan yang menyebabkan rasa nyeri seperti terbakar dan pegal.
  3. Cardiotoxin, kebanyakan ditemukan pada ular Elapid viper yang dapat menyebabkan efek bermacam-macam pada jantung diantaranya penggumpalan otot-otot jantung dan kontraksi jantung menyebabkan gagalnya fungsi jantung.
  4. Hemorrhagin, terdapat pada ular-ular Viper, Pitviper dan King Cobra yang menghancurkan dinding pembuluh darah kapiler, menyebabkan perdarahan pada luka gigitan dan sekitarnya.
  5. Koagulasi merupakan komposisi umum, ditemukan pada beberapa ular Viper yang mencegah darah membeku.
  6. Trombosis dimana beberapa ular Viper memiliki anti pembekuan darah dan mengikat formasi pembekuan darah melalui sistem peredaran darah.
  7. Hemolisis terdapat pada bisa ular-ular elapid seperti Viper yang menghancurkan sel-sel darah merah.
  8. Cytolisin merupakan komponen pada ular Viper dan Pitviper yang menghancurkan sel-sel darah putih.
  9. Neurotoxin terdapat pada ular-ular Elapid seperti Viper, ular derik Tropikal, dan pada beberapa ular derik Mojave Amerika Utara yang memblokir transmisi impuls saraf ke otot-otot terutama yang berhubungan dengan diafragma dan pernapasan.


bisa ular viper merusak jaringan kulit dan otot

Komposisi bisa dapat berbeda diantara beberapa spesies yang sama dan bahkan dalam jumlahnya namun perbedaan terbesar adalah daerah geografi dan jumlah populasi. Sebagai contoh, ular derik Mojave (Crotalus scutulatus) yang berasal dari wilayah Arizona Selatan dan New Mexico mempunyai bisa khusus neurotoxin yang dikenal dengan Toxin Mojave, namun bisa tersebut tidak menyebabkan hemoragi dan memecahkan beberapa enzim proteolitik. Bisa ular derik  Mojave yang berasal dari Arizona Tengah tidak memiliki bisa neurotoxin namun memiliki daya hemoragi dan memecahkan enzim proteolitik. Bila kedua spesies tersebut dikawinkan maka ada individu yang memiliki bisa setengah-setengah dari kedua komposisi bisa tersebut.

     Tingkat toksik bisa juga dapat bervariasi pada individu-individu. Secara umum bisa pada ular yang baru lahir dan ular yang masih kecil akan lebih potensial dibandingkan dengan bisa ular individu dewasa pada spesies yang sama. Dan juga gigitan bisa dari ular yang lama tidak makan misalnya pada ular yang baru bangun dari hibernasi, lebih berbahaya dibandingkan dengan ular yang lama belum makan namun tidak berhibernasi. Ular yang berpuasa mengandung lebih banyak bisa. Kelenjar bisa harus diisi pada setiap kali selesai digunakan dan untuk memenuhinya diperlukan waktu yang cukup lama.

diterjemahkan dari World of Snakes


by Abas Nyak Agil Mamih on Friday, October 8, 2010 at 11:11pm

Menentukan Ular Berbisa Yang Paling Potensial


          Bila timbul suatu pertanyaan ular manakah yang paling berbisa, maka ada 2 jawaban. Salah satunya berdasarkan jumlah bisa yang masuk pada saat gigitan pertama. Namun demikian tidak ada ular berbisa yang mengosongkan kelenjar bisanya dalam sekali gigitan, dan biasanya ular hanya menggigit dengan bisa yang “kering”. Cara lain untuk menentukan keampuhan bisa adalah dengan melihat tempo yang dibutuhkan bisa tersebut saat melumpuhkan tikus.
            Uji coba yang dilakukan terhadap tikus yang diinjeksikan bisa dalam jumlah yang banyak memperlihatkan tingkat kematian (lethal) sebesar 50% dalam waktu 24 jam. Dosis ini disebut LD50 (LD = Lethal Dose) yaitu jumlah miligram bisa perkilogram BB tikus. Bisa dari beberapa jenis ular di uji coba dengan cara ini. Untuk berbagai alasan, dosis yang digunakan tidak pernah di uji coba terhadap manusia.
            Dengan asumsi bahwa tikus dan manusia memiliki persamaan dalam daya serap bisa dari setiap spesies ular, maka ular Hook-nose Seasnake (Enhydrina schistosa) adalah ular dengan tingkat bisa paling tinggi yang pernah di uji coba. Hasil uji coba menunjukkan bahwa hanya dibutuhkan 1,5 miligram bisanya dapat membunuh manusia. Ular Hook-nose Seasnake tersebut terdapat mulai dari Laut Persia dan perairan selatan Asia sampai pantai utara Australia. Russel’s Viper (Vipera russelii) dari selatan Asia dan Inland Taipan (Oxyuranus microlepidotus) dari Australia memiliki bisa yang nyaris mematikan. Namun perbandingan ini hanya dugaan tingkat toksisitas bisa terhadap manusia. Dan juga ketentuan LD50 memiliki data yang berbeda tergantung dari penelitian yang dilakukan dengan cara injeksi yang berbeda (intramuskular, intraperitoneal, subkutan). Injeksi subkutan biasanya menunjukkan tingkat lethal yang kurang tinggi dibandingkan dengan intraperitoneal, dan dimbutuhkan 2 sampai 5 kali penambahan dosis untuk menghasilkan tingkat kematian yang sama.

mengeluarkan bisa (milking)

            Estimasi didapat dari bisa yang diambil (milking) dari kelenjar bisa semua ular, kemudian dikeringkan dan bubuk tersebut ditimbang. Sampel bisa diambil dari ular dewasa dari spesies tunggal dan dibuat jumlah rata-ratanya. King Cobra (Ophiophagus hannah), Gaboon Viper (Bitis gabonica), Eastern Diamondback Rattlesnake (Crotalus adamanteus), dan Bushmaster (Lachesis muta) memiliki kapasitas bisa yang banyak dalam sekali gigit. Toksisitas dari ke-empat jenis ular tersebut berbeda namun gigitan dari ke-empatnya sangat berbahaya meskipun mereka menginjeksikan bisa dalam jumlah seperempat dari keseluruhan total bisa yang ada di dalam kantung bisa. Sekitar 100 miligram bisa dari ular derik Eastern Diamondback dapat membunuh manusia dewasa, dan Diamondback yang besar dapat menyimpan 850 miligram bisa dalam kantung bisanya.

bisa yang keluar dari taring

            Kematian akibat bisa tergantung dari mangsa. Bahkan bila dilakukan uji coba terhadap manusia meskipun manusia bukanlah mangsa ular berbisa ada faktor-faktor lain dan tingkat LD50 dapat menyebabkan luka-luka yang serius. Pada manusia faktor-faktor tersebut antara lain kesehatan, ukuran tubuh, usia, dan kondisi fisiologis. Faktor-faktor tersebut juga berhubungan dengan kontak gigitan antara lain apakah hanya satu taring yang masuk atau keduanya, jumlah bisa yang masuk, lokasi gigitan, dan tentu saja apakah langsung masuk ke aliran darah atau tidak, kondisi dari ular itu sendiri dan jarak bisa dikeluarkan pada saat pertama kali atau kedua kali merupakan faktor terakhir. Beberapa perbedaan faktor ini yang menyebabkan gigitan ular berbisa merupakan hal yang unik. Oleh sebab itu tergantung dari keadaannya, gigitan dari ular dengan tingkat bisa rendah dapat mengancam jiwa dan sebaliknya dengan ular yang tinggi tingkat bisanya kemungkinan tidak terlalu berbahaya.

Toksisitas Bisa Ular Berbisa

No.   Nama dan Spesies                                                  Tikus LD50 (mg/kg)
1.      Hook-nosed Seasnake (Enhydrina schistosa)                 0,02 : 7,79
2.      Russel’s Viper (Vipera russelii)                                    0,03 : 130,0 – 250,0
3.      Inland Taipan (Oxyuranus microlepidotus)                    0,03 : 44,0 – 110,0
4.      Dubois’s Reef Seasnake (Aipysurus doboisii)                  0,04 : 0,07
5.      Eastern Brownsnake (Pseudechis textilis)                      0,05 : 2,0 – 67,0
6.      Black Mamba (Dendroaspis polylepis)                          0,05 : 50,0 – 100,0
7.      Tiger Rattlesnake (Crotalus tigris)                               0,06 : 6,0 – 11,0
8.      Boomslang (Dispholidus typus)                                  0,07 : 1,6 – 8,0
9.      Yellow-bellied Seasnake (Pelamis platurus)                   0,07 : 1,0 – 4,0
10.    Common Indian Krait (Bungarus caeruleus)                 0,09 : 8,0 – 20,0
11.    Desert Horned Viper (Cerastes cerastes)                    0,10 : 120,0 – 400,0
12.    Common Taipan (Oxyuranus scutellatus)                    0,10 : 120,0 – 400,0
13.    Common European Viper (Vipera berus)                      0,11 : 10,0 – 18,0
14.    Tigersnake (Notechis sculatus)                                  0,12 : 35,0 – 189,0
15.    Forest Cobra (Naja melanoleuca)                                 0,12 : ?
16.    Puffadder (Bitis arietans)                                          0,14 : 350,0 – 300,0
17.    Gaboon Viper (Bitis gabonica)                                    0,14 : 350,0 – 600,0
18.    Seakrait (Laticauda laticaudata)                                 0,16 : ?
19.    Neotropical Rattlesnake (Crotalus durissus)                   0,17 : 20,0 – 100,0
20.    Mojave Rattlesnake (Crotalus sculutulus)                      0,18 : 50,0 – 300,0
21.    Egyptian Cobra (Naja haje)                                      0,19 : 175,0 – 300,0
22.    Harlequin Coralsnake (Micrurus fulvius)                       0,20 : 3,0 – 5,0
23.    Ottoman Viper (Vipera xanthina)                               0,20 : 8,0 – 18,0
24.    Erabu Seakrait (Laticauda semifasciata)                      0,21 : 2,0 – 14,0
25.    African Birdsnake (Thelotornis kirtlandii)                        0,21 : ?
26.    Ringhal (Haemachatus haemachatus)                          0,22 : 80,0 – 120,0
27.    Olive Seasnake (Aipysurus laevis)                               0,22 : 10,0 – 33,0
28.    Blacknecked Cobra (Naja nigricollis)                             0,23 : 150,0 – 350,0
29.    Sawscaled Viper (Echis carinatus)                                0,24 : 5,0 – 48,0
30.   Common Mamba (Dendroaspis angusticeps)                  0,26 : 60,0 – 95,0
31.   Barbelied Seasnake (Hydrophis elegans)                       0,27 : 9,0 – 24,0
32.   Spectacled Cobra (Naja naja)                                     0,28 : 150,0 – 600,0
33.   Annulated Seasnake (Hydrophis cyanocinctus)                0,35 : 5,0 – 8,0
34.   Ferdelance (Bothrops atrox)                                      0,35 : 100,0 – 200,0
35.   White-lipped Tree Pitviper (Trimeresurus albolabris)         0,37 : 8,0 – 15,0
36.   Hundred-face Pitviper (Deinagkistrodon acutus)                0,38 : ?
37.   Central American Coralsnake (Micrurus nigrocinctus)          0,40 : 5,0 – 8,0
38.   Northern Moleviper (Atractaspis microlepidota)                     ? : 5,0 – 10,0
39.   Yellow-lipped Seakrait (Laticauda colubrina)                      0,40 : ?
40.   Jararacussu (Bothrops jararacussu)                               0,46 : 200,0 – 321,0
41.   Nose-horned Viper (Vipera ammodytes)                          0,48 :?
42.   Common Blacksnake (Pseudechis porphyriacus)               0,50 : 30,0 – 50,0
43.   Deathadder (Acanthopis antarcticus)                             0,60 : 70,0 – 236,0
44.   Hardwicke’s Seasnake (Lapemis curtus)                         0,62 : 2,4 – 15,0
45.   Southern Coralsnake (Micrurus frontalis)                        0,63 : 20,0 – 30,0
46.   Blunt-nosed Viper (Viperina lebetina)                              0,64 : 12,0 – 150,0
47.   Wagler’s Pitviper (Tropidolaemus wagleri)                        0,75 : 65,0 – 90,0
48.   Cantil (Agkistrodon bilineatus)                                       0,80 : 50,0 – 95,0
49.   King Cobra (Ophiophagus hannah)                                 0,90 : 350,0 – 500,0
50.   Twin-spoted Rattlesnake (Crotalus pricei)                         0,95 : 4,0 – 8,0
51.   European Asp (Vipera aspis)                                         1,00 : 9,0 – 10,0
52.   Western Rattlesnake (Crotalus viridis)                             1,10 : 35,0 250,0
53.   Terciopelo (Bothrops asper)                                         1,10 : 100,0 – 310,0
54.   Jararaca (Bothrops jararaca)                                        1,10 : 40,0 – 70,0
55.    Banded Krait (Bungarus fasciatus)                                1,20 : 20,0 – 114,0
56.    Mamushi (Agkistrodon blomhffii)                                   1,20 : 1,0 – 7,0
57.    Eastern Diamondback Rattlesnake (Crotalus adamentus)    1,20 : 200,0 – 850,0
58.    Malayan Pitviper (Callosellasma rhodostoma)                    1,24 : 40,0 – 60,0
59.    Picados Pitviper (Porthidium picadoi)                               1,33 : 50,0 – 70,0
60.    Eyelash Palm Pitviper (Bothriechis schlegelii)                    1,60 : 10,0 – 20,0
61.    Timber Rattlesnake (Crotalus horridus)                           1,64 : 75,0 – 210,0
62.    Common Nightadder (Causus rhombeatus)                     1,85 : 20,0 – 30,0
63.    Lowland Copperhead (Austrelaps superbus)                      2,0 : ?
64.    Urutu (Bothrops alternatus)                                          2,0 : 60,0 – 100,0
65.    Cottonmouth (Agkistrodon piscivorus)                            2,04 : 80,0 – 170,0
66.    Orsini’s Viper (Vipera ursinii)                                          2,17 : 1,0 – 4,0
67.    Western Diamondback Rattlesnake (Crotalus atrox)          2,20 : 175,0 – 600,0
68.    Jumping Pitviper (Porthidium nummifer)                           2,40 : 40,0 – 60,0
69.    Sidewinder (Crotalus cerastes)                                      2,60 : 18,0 – 50,0
70.    Pygmy Rattlesnake (Sistrurus miliarus)                            2,80 : 12,0 – 35,0
71.    Massasauga (Sistrusus catenatus)                                 2,90 : 15,0 – 45,0
72.    Okinawa habu (Trimeresurus flavoviridis)                         3,05 : ?
73.    Red Diamond Rattlesnake (Crotalus rubber)                     3,70 : 120,0 – 450,0
74.    Speckeld Palm Pitviper (Bothriechis nigroviridis)                   4,0 : 10,0 – 20,0
75.    Bushmaster (Lachesis muta)                                        4,50 : 200,0 – 500,0
76.    Rainforest Hognosed Pitviper (Porthidium nasautum)         4,60 : 12,0 – 25,0
77.    Side-stiped Palmpitviper (Bothriechis lateralis)                     4,84 : 10,0 – 20,0
78.    Slender Hognosed Pitviper (Porthidium ophryomegas)        6,30 : 10,0 – 20,0
79.    Godman’s Pitviper (Porthidium godmani)                          7,60 : 10,0 – 20,0
80.    Rock Rattlesnake (Crotalus lepidus)                                 9,0 : 129,0
81.    Copperhead (Agkistrodon contotrix)                             10,90 : 40,0 – 75,0

sumber: World of Snake
(copas link: https://www.facebook.com/notes/abas-nyak-agil-mamih/menentukan-ular-berbisa-yang-paling-potensial/446336987807)
by Abas Nyak Agil Mamih on Sunday, October 10, 2010 at 12:36am